Lantun ini yang berisikan tentang pandangan hidup seseorang

Senin, 16 April 2012

Tugas Negara


Oleh Ramadhan Batubara

Tuti Awalia dari SCTV hanya bisa meringis. Bagian muka, tepatnya di bibirnya, bengkak. Dia menjadi korban kekerasan saat melakukan tugas. Tidak dia saja, Hayat Sudrajat Hasibuan dari Trans TV dan Yudistira dari Berita 1 juga jadi korban kekerasan yang dilakukan anggota TNI di kawasan Lapangan Merdeka Medan.
Semua ini bermula ketika mereka meliput aksi Komite Tani Menggugat yang dibubarkan oleh pihak keamanan. Massa dianggap mengganggu kelancaran laju iring-iringan Wakil Presiden Boediono yang akan menuju lokasi mengtinap, Hotel JW Marriot. Pemburaan tersebut cenderung kurang simpatik. Beberapa morang sampai terjatuh dan beberapa wartawan juga mengalami hal yang sama.
Nah, saat itulah ketiga jurnalis tadi berusaha mengkonfirmasi soal pembubaran tersebut kepada seorang perwira yang ada di sana. Sayang, bukannya dapat berita, mereka malah jadi berita. Parahnya lagi, ternyata iring-iringan Wapres malah tidak lewat jalan itu. Sial.
Soal kekerasan pada jurnalis memang bukan barang baru di negeri ini. Bahkan, Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri, Komisaris Besar Polisi Boy Rafli Amar beberapa waktu lalu mengatakan, selama 2011 sedikitnya terdapat 85 laporan kasus kekerasan pada wartawan yang diterima pihak kepolisian. Kasus kekerasan yang dilaporkan tersebut baik secara fisik seperti penganiayaan, berat maupun ringan, hingga pembunuhan. Nonfisik seperti ancaman, intimidasi, penghinaan.
Boy Rafli yang berbicara di Dewan Pers pada awal April lalu memahami kalau profesi wartawan cukup berisiko."Momen memang mahal untuk mendapat hasil karya jurnalistik yang nilainya bagus. Tanpa disadari kondisinya sangat berbahaya dengan suasana yang begitu keos.  Ini kita ingatkan bahwa keselamatan nomor satu, imbauan kami untuk tidak berada pada zona berbahaya," ujarnya saat itu.
Tapi atas nama tugas, kata seorang kawan, ke neraka pun jadi. Begitulah, profesi wartawan memiliki beban moral yang sangat berat. Ya, dia wajib memberitahukan masyarakat tentang sesuatu yang memang harus diberitahukan. Pasalnya, masyarakat memang punya hak untuk tahu. Karena itu, dengan kata lain, tugas wartawan itu bak tugas negara yang diemban seorang prajurit di medan perang. 
Nah, tingkah tentara yang menghalau massa hingga melakukan kekerasan pada wartawan juga sama. Mereka diwajibkan memberi kenyamanan pada Wapres. Segala upaya akan mereka lakukan demi keamanan orang nomor dua di Indonesia ini. Memang itulah tugas mereka. Ketika terjadi sesuatu pada Wapres, maka negara dalam bahaya juga kan? Jadi, apa yang mereka lakukan juga tugas negara.
Tugas negara juga diemban sang Wapres. Dia hadir ke provinsi ini untuk meninjau langsung sekian megaproyek yang memang untuk kebaikan Indonesia. Contohnya, bandara di Kualanamu itu. Ayolah, itukan bandara tingkat internasional, jika tersendat pembangunanya atau tidak maksimal hasilnya, negara juga kena imbas. Mata dunia pasti mengarah ke Indonesia.
Jika semuanya mengatasnamakan tugas negara, siapa sesungguhnya yang jadi korban? Seharusnya tidak ada jika saja tiga wartawan tadi tidak dipukuli. Kalaupun ada yang benar-benar menjadi korban adalah warga negara. Ya, setidaknya warga Medan sibuk mengeluh. Jalan yang biasanya macet, saat Wapres datang, malah tambah macet. Itu saja. (*)


Sumut Pos, Sabtu 14 April 2012

Sewindu

Oleh Ramadhan Batubara

Riza Fauzi warga Pantonlabu, Aceh Utara, sewindu yang lalu nyaris tak bisa berkata. Riza yang saat itu masih menjadi mahasiswa Teknik Geodesi UGM Jogjakarta terdiam mendengar kabar. Banda Aceh hancur lebur akibat gempa dan tsunami. Ya, saat itu 26 Desember 2004.
Kampung Riza di Pantonlabu berjarak kurang lebih tujuh jam perjalanan dari ibu kota Nanggroe Aceh Darussalam itu, namun bukan berarti dia tidak panik. Di Kutaraja – nama lain Banda Aceh – ada pujaan hatinya. Seorang mahasiswa Teknik Kimia Unsyiah. Dan, sang kekasih tinggal di kawasan Darussalam yang jelas-jelas dikabarkan hancur.
Sekian waktu berjalan, sang kekasih juga tak memberi kabar. Riza terus mencari tahu, tapi kekasihnya itu bak ditelan bumi.
Hingga setelah beberapa pekan terlewati, Riza mendapat kabar. Kekasihnya itu terlihat di sebuah penampungan pengungsi yang ada di Banda Aceh. Seorang kerabat melihat kekasihnya itu duduk di depan tenda sambil memeluk boneka. Riza langsung pulang ke Aceh.
Selang sebulan, Riza kembali lagi ke Jogja. Meski tak berhasil menemukan, tapi dia yakin kekasihnya itu masih hidup. Dia menyerah mencari tapi tidak menyerah untuk menanti kabar. “Boneka yang dipeluknya itu, boneka yang kukasih,” kata Riza saat itu pada saya, matanya terlihat berkaca.
Sayang, ketika saya dan Riza berpisah empat tahun lalu, kekasihnya itu juga belum ditemukan.
Kini, setelah delapan tahun berlalu, gempa hebat kembali menghajar Aceh. Saya hubungi Riza, tetapi telepon selulernya tidak aktif. Saya mencari tahu kabarnya dari sekian kawan, juga nihil. Setahu saya, tempo hari dia telah diterima sebagai pegawai Negeri Sipil di Jakarta.
Begitulah, dua gempa hebat dan disusul sekian gempa lainnya yang terjadi kemarin langsung membangkitkan memori saya pada bencana 2004 lalu. Masih terbayang dalam ingatan saya bagaimana warga yang berlari, menaiki gedung, hingga berlindung di masjid. Belum lagi, korban yang mencapai ratusan ribu nyawa. Bayangkan, ratusan ribu nyawa!
Mungkin perasaan saya dirasakan sebagian besar warga di Medan. Setidaknya, saya melihat kepanikan yang luar biasa. Mereka yang ada di mal, hotel, gedung pemerintahan, dan gedung lainnya berhamburan. Wajar kalau ada gempa orang keluar gedung atau rumah, tapi suasana kemarin memang cukup berbeda.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun langsung buka suara. Dia yang melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Inggris, David Cameron, mengungkapkan kelegaannya karena kejadian tersebut tidak seperti 2004 lalu. “Situasinya terkendali, under control,” katanya.
Kenyataannya, warga Medan tetap saja panik. Memori 2004 memang masih terjaga baik di kepala. Pun, kisah yang dialami Riza tadi bagi saya. Dan, semua itu bagi saya adalah hal baik. Setidaknya, kejadian ini menyadarkan warga dan pemerintah kota kalau jalan untuk selamat adalah sesuatu yang penting. Tangga darurat atau pintu darurat di setiap gedung adalah mutlak. Itu saja. (*)

Sumut Pos, Kamis,12 April

Minggu, 08 April 2012

Banyak Jepang di Lapangan Merdeka

Oleh Ramadhan Batubara

Lapangan Fukereido begitu namanya saat masa Jepang. Lapangan Merdeka namanya kini. Setelah sekian puluh tahun berubah nama dengan menggunakan kata Merdeka, ternyata lapangan di tengah Kota Medan itu tetap saja tak bisa hilang dari kuasa Jepang. Dan, hal itu saya buktikan kemarin pagi.

Saya memang tidak memilih sisi lapangan yang dekat kantor pos. Sisi itu belum hidup di kala hari masih pagi. Dia hidup saat malam; menawarkan beraneka makanan dan minuman. Malam adalah miliknya. Tapi, ketika matahari masih terang, sisi dekat Stasiun Kereta Api Medan adalah pilihan. Ya, barisan toko buku yang menawan.

Dan, dari pilihan itulah lantun ini bermula. Atas nama keinginan mencari buku yang berharga miring, saya parkirkan si Lena (masih ingat dengan sepeda motor saya bukan?) di depan sebuah kios yang masih tutup. Belum lagi saya turun, terdengar sekian tawaran dari penjual buku yang sudah beroperasi.

Cari apa, Bang? Kamus Besar Bahasa Indonesia? Novel? Buku pelajaran? Majalah? Buku resep makanan? saya hanya tersenyum mendengar bapak tua duduk di sebelah kios yang tutup tadi.

Buku kedokteran atau hukum, Bang? katanya lagi ketika saya sudah akan melewati kiosnya.

Sumpah, saya merasa bosan ditanyai terus. Ayolah, kenapa saya tidak dibiarkan menjelajahi Pasar Buku ini dengan leluasa. Ya, biarkan saya menjelajahi ribuan judul dan cover buku yang menggoda itu.

Akhirnya, saya berhenti di depan kiosnya. Bukan untuk mencari buku yang dicari, saya ingin mencari yang tak ada di sana. Maksudnya, biar dia diam. Gak ada komik ya, Pak? kata saya begitu melihat toko dia hanya berisi buku serius.

Eh, bukannya menggeleng, si bapak malah tersenyum. Tampaknya dia mengejek pilihan saya tadi. Dia sepele. Mungkin dalam hatinya berkata, Percuma bawa ransel sok wartawan, bacaannya komik.

Selesai senyum dan memunculkan roman mencurigakan, dia menunjuk arah ke dalam, ke sebuah gang. Itu saja.

Sudahlah, untuk apa diperpanjang. Saya ikuti saja arah tangannya. Maksudnya biar cepat terhindar dari dia. Sayangnya, arah tangannya itu bak petunjuk yang tidak bisa saya tolak. Setelah memasuki gang itu, saya malah terpaku di kios yang menawarkan beribu komik. Terpandang oleh saya, barisan komik itu sebagian besar adalah komik Jepang, mungkin sembilan puluh prosennya. Mungkin karena itulah saya terpaku, mata saya terus mencari komik made in Indonesia. Tak terlihat Gareng Petrok karya Indri Soedono atau Jaka Sembung-nya Djair Warni. Sempat terpikir juga mencari karya anak Medan seperti karya Zam Nuldyn, Taguan Hardjo, Bahzar, dan Djas. Tapi, tumpukan komik Jepang telah membuat mata saya capek. Bertanya pada penjual adalah langkah terbaik bukan?

Lucunya, bukan karya mereka yang saya tanyakan pada pedagang komik-komik tersebut. Saya malah menyebut Topeng Kaca. Ya, sebuah komik Jepang era sembilan puluhan. Setelah kalimat keluar dari mulut saya, si pedagang bergegas. Tak sampai tiga menit dia sudah membawah tujuh buku.

Saya sumringah. Sumpah. Komik itu sejatinya sempat membantu saya untuk belajar teater. Malah, pengetahuan dari komik Topeng Kaca itu sempat saya terapkan saat melatih teater. Komik itu memang bercerita tentang seorang tokoh yang berniat dan berhasrat untuk menjadi pemain drama alias aktor. Jadi, ceritanya mengandung proses sebuah pementasan; baik dari pencarian karakter hingga berbagai unsur pementasan.

Nah, begitu tumpukan Topeng Kaca ada di depan saya, langsung saja dilahap. Sayang, edisinya tak lengkap. Tak ada edisi satu dan empat. Bang, edisinya kurang ya? tanya saya langsung.

Wah, kalau Topeng Kaca laris itu, Bang. Harus pesan on line. Banyak kali peminatnya. Harganya pun sampai 25 ribu per edisi, balas sang penjual.

Dua puluh lima ribu untuk buku lusuh? Kalau komik lain berapaan? penasaran saya.

Rata-rata 5 ribu untuk satu edisi, Bang.

Wow. Menggiurkan. Saya tinggalkan Topeng Kaca. Meski ingin bernostalgia dengan komik itu, tapi edisinya tak lengkap. Ya sudah, saya cari komik lain, selagi harganya lima ribu.
Maka, setelah hampir satu jam mengobrak-abrik tumpukan komik, saya memilih Master Cooking Boy karya Etshusi Ogawa. Saya juga mengambil Diva karya Hiromu Ono. Dan, satu komik Korea karya Choi Kyung-ah yang berjudul Bibi, The Road to Fashion. Setelah dihitung, dari tiga komik itu, ada 18 edisi. Fiuh.

Lapan lima ribu aja, Bang,” terang si pedagang. 

Saya tersenyum. Tidak apalah, selagi tanggal muda. Saya serahan selembar uang seratus ribu.

Nah, di saat menunggu uang kembalian, tiba-tiba mata saya tertuju ke sebuah buku. Bukan komik, tapi tentang komik. Buku itu berjudul Yuk, Bikin Komik Sambil Ketawa. Saya ambil dan saya lihat penulisnya adalah Dwi Koendoro Br. Langsung saja terbayang Panji Koming dan Sawungkampret. Saya buka, ternyata Dwi Mas Deka Koendoro Br menuliskan proses kreatifnya sebagai komikus. Buku yang menarik. Kenapa saya tak pernah tahu?

Yang ini berapa, Bang? langsung saya tanya, suara saya bahkan agak berteriak.

Lima belas! teriak si pedagang.

Sip. Seratus ribu tanpa kembalian. Setelah dimasuki plastik hitam, buku-buku itupun saya masuki ke ransel. Selesai.

Saya kembali ke parkir. Begitu Lena akan saya nyalakan, pedagang tua dekat parkiran itu malah menyapa, Dapat komiknya?

Kurang ajar. Saya arahkan saja jari saya ke ransel. Dia tersenyum. Saya tak peduli. Saya nyalakan Lena. 

Begitu meninggalkan gerbang Pasar Buku itu, saya merasakan ada yang kurang. Bah, bukankah saya ke tempat ini karena istri minta dicarikan buku resep makanan Nusantara?

Waduh, mau kembali lagi terasa sangat malas. Hm, saya buka ransel dan saya lihat komik Jepang soal jagoan masakan tadi. Hm, boleh juga. Komik itu kan soal masak dan masakan, istri saya pasti tak marah.

Akhirnya saya tinggalkan Lapangan Fukureido itu. Meski sudah tidak jajahan Jepang lagi, tapi begitu banyak karya anak Jepang di sana. Bukankah itu juga namanya dijajah? Ah, entahlah.(*)

Sumut Pos, Minggu 8 April 2012

Kamis, 05 April 2012

Muslihat Belalang


Oleh Ramadhan Batubara

Hatta, lelaki itu terbangun. Ada gerak dalam perutnya yang menandakan lapar. Di tudung saji dan almari sama sekali tak ada lauk; nasi pun nihil. Ia pun berteriak, memanggil anaknya yang bernama Belalang.
Pak Belalang – begitu dia dipanggil – tak mendapat jawaban menyenangkan dari sang anak. Maka, bapak dan anak itupun berembuk; berdiskusi agar lapar bisa hilang. Sebuah muslihat tampil di benak. Mereka tersenyum.
Belalang pun lari ke pinggir kampung. Sebuah hutan kemudian dia tuju. Sementara sang bapak, sibuk menyediakan baskom. Tentu tidak lupa air dan beberapa petik kembang.
Tak lama setelah itu, Belalang kembali. "Di bawah pohon dekat ujung hutan sana kuikatkan kambing itu, Pak," katanya.
Pak Belalang tertawa. "Sudah sana, kau cari siapa yang kehilangan," balasnya.
Singkat cerita, warga yang kehilangan kambing ribut. Belalang langsung memberi pemecahan. Dia katakan kalau bapaknya seorang ahli nuzum yahud. Maka, berbondonglah warga ke rumahnya. Bak ahli nuzum kawakan, Pak Belalang beraksi. Dia gunakan baskom berair dan berbunga itu seperti bola kristal. Warga percaya, di ujung hutan kambing itu pun ditemukan.
Hasilnya, Pak Belalang dan si Belalang pun bisa makan. Setelah itu, setelah kenyang, sang bapak kembali tidur. Selesai.
Seandainya saja hidup bisa sesederhana cerita rakyat di atas, mungkin tak akan ditemukan orang dengan kening berkerut bukan? Kehidupan akan tenang, persis ular; setelah kenyang tidur. Jadi, tidak ada istilah berlebihan. Ya, orang-orang mencari sesuatu sesuai kebutuhannya. Kehidupan pun mengalir lancar, seperti kata Gesang dalam Bengawan Solo-nya; mengalir sampai jauh.
Ujung-ujungnya, tidak ada lagi spekulan. Heboh bahan bakar minyak (BBM) hingga gemeretak retak partai koalisi di Jakarta sana tak tercipta. Pun, tak ada kebijakan yang membuat orang terperangah. Pajak dikutip makin tinggi, tapi pengemplak pajak malah tidak ditindak.
Tapi begitulah, hidup bukan sekadar cerita Pak Belalang. Dan, dalam kisah itu, Pak Belalang juga bukan tokoh ideal. Meski punya ide cemerlang, dia sangat malas. Dia mau enaknya saja. Seandainya ada Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) di zaman itu, dia pasti tidak akan sepakat dengan anaknya untuk mencuri kambing dan mengikatkannya di ujung hutan. 
Sayangnya, seperti manusia kebanyakan, Pak Belalang tidak juga tidak bisa lepas dari lapar.  Setelah dia terbangun lagi dari tidur dan merasa lapar, apa yang dicari? Makanan kan? Sementara, nasi dan lauk ditudung saji nihil. Memakai trik sebelumnya sangat tidak mungkin; sebanyak apa warga kampung yang punya kambing dan selama apa mereka percaya dengan Pak Belalang dan anaknya itu.
Ya sudah, seperti harga BBM yang batal naik, bagaimanapun juga dia akan tetap naik. Ketetapan yang diambil oleh wakil rakyat di Senayan hanyalah berkah kambing di ujung hutan ala Belalang; hanya untuk membebaskan perut dari lapar dalam sehari Tapi, kenaikan harga BBM adalah lapar yang dirasakan Pak Belalang setiap bangun tidur; yang akan terus berulang.
Jadi, apakah kita akan terus menjadi Pak Belalang? (*)


Sumut Pos, Kamis 5 April 2012

Rabu, 04 April 2012

Kamseupay


Oleh Ramadhan Batubara

Warga Kecamatan Beringin Kabupaten Deliserdang patut berbangga. Pembangunan bandara di Kualanamu adalah penyebabnya. Maka, ketika wilayah mereka menjadi lintasan pembangunan bandara internasional itu, mereka tak mempermasalahkan.
Sayangnya, rasa bangga tersebut makin lama makin surut. Ini bukan soal ganti rugi atau apapun istilahnya. Ini hanya soal kenyamanan. Ya, entah sudah berapa kali truk pengangkut material bolak-balik. Akibatnya, jalan sepanjang delapan kilometer mulai dari Sekip hingga Desa Beringin di Kecamatan Beringin hancur lebur. Istilah gaulnya, jalan itu kini tak berlubang lagi karena seluruh jalan sudah berlubang. Becek dan berlumpur tak terhindarkan; itu kalau musim hujan. Debu mengakibatkan pohon di sekitar jalan berwarna cokelat; ini kalau lagi kemarau.
Warga di sana – dengan menyisihkan rasa bangga – protes. Ayolah, bukan menentang pembangunan, tapi mereka meminta tolong agar keadaan tersebut diperhatikan. Eh, ketika mereka menyuarakan itu, mereka malah dianggap lebay. Bahkan, beberapa kalangan malah anggap warga kecamatan itu kamseupay. Tahukan arti istilah itu? Istilah kamseupay adalah singkatan dari padanan kata ‘kampungan sekali, udik, payah’. Istilah kaum alay ini kembali populer karena mantan artis, akademis, sekaligus blogger Marissa Haque membuat postingan blog dan kicauannya di Twitter.
Ya, mereka dianggap tak mendukung pembangunan. Pemerintah yang terlibat dalam pembangunan bandara di Kualanamu pun seakan tutup mata. “Kekmana tak tutup mata, mereka kan tidak melihat jalan yang rusak itu, mereka lewat depan?” kata seorang kawan.
Kawan yang lain lebih ekstrem lagi. Katanya, soal jalan rusak itu tak seksi dibahas. “Pemerintah kan lebih suka diskusi soal nama,” timpalnya.
Maka, khalayak sibuk mendebatkan Sultan Sulaiman, Tengku Rizal Nurdin, Sisingamangaraja XII, Amir Hamzah, Adam Malik, dan lainnya untuk bandara tersebut. Tidak hanya di Deliserdang, Kabupaten Langkat juga menggelar diskusi nama tersebut. Sementara, nasib warga di Kecamatan Beringin hingga Kecamatan Pantailabu sama sekali tak diketahui. Ya, tidak pernah diseminarkan. Padahal, keberadaan warga di sekitar situ cukup berperan.
Jika begitu, siapa sebenarnya yang kamseupay?
Selain itu, efek debu dan becek juga bisa memakan korban kan? Tidak itu saja, bias sosial dari bandara juga penting dibahas. Pemerintah atawa pengambil kebijakan sudah selayaknya memikirkan nasib mereka yang menjadi pelintasan proyek. Bahkan, setelah proyek selesai, mereka juga wajib diperhatikan. Maka, diskusi atau seminar atau sarasehan untuk warga Kecamatan Beringin dirasa perlu agar mereka tak terbiarkan begitu saja. Ujung-ujungnya, jika semua nyaman, kan semuanya senang. Jika semua senang, maka tak ada lagi kecemburuan dan kesenjangan. Pemerintah pun bisa nyaman menjalankan roda pemerintahan.
“Tampaknya tak perlulah diskusi, cukup benahi saja jalan itu,” balas kawan tadi.
“Iya, kamu jangan ikut-ikutan kamseupay lah?” timpal kawan satunya lagi.
Bah! (*)    

Sumut Pos, Rabu 4 April 2012

Selasa, 03 April 2012

News Analysis

Oleh Ramadhan Batubara

Konon di sebuah entah berentah lahirlah seorang bayi tanpa mulut. Seiring waktu, setelah dia besar, dia menjadi sosok yang top. Semua orang membicarakannya. Perempuan itu menjadi cantik karena setiap orang bebas membayangkan mulut yang pas. Jika ada yang suka bibir tipis, kan tinggal bayangkan saja pada wajah perempuan itu. Begitu juga dengan para pecinta bibir tebal dan sebagainya.
Saking topnya, perempuan ini tidak hanya mencuri perhatian warga, pemerintah juga kena imbas. Ujung-ujungnya, dia ditangkap pihak keamanan. Alasan penangkapan itu adalah karena dia terlalu diam.
Setelah dilepas, warga shock. Si perempuan menjadi punya mulut. Dia pun lincah berkicau. Tak pelak, warga menggunjingkannya. Perempuan tadi pun ditangkap lagi. Alasan penangkapan itu adalah karena dia terlalu banyak bicara.
Begitulah cerita pendek karya Putu Wijaya yang berjudul Mulut. Sengaja saya kutip kisah tersebut karena situasi terkini. Perempuan tanpa mulut ala Putu, bagi saya adalah soal pembungkaman saat zaman Soeharto lalu. Ya, bukan rahasia kalau zaman orde baru, para politikus dan media hingga mahasiswa dibungkam; semuanya seakan tanpa mulut. Dan lucunya, di zaman itu juga meski telah dibungkam masih ada juga yang ditahan. Sedangkan perempuan bermulut, bagi saya, lebih mengarah pada era reformasi; tidak ada lagi pembungkaman. Tapi, tetap saja aspirasi tertahan. Bukankah begitu?
Melihat opera sabun DPR RI soal harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tempo hari, saya langsung teringat dengan perempuan tanpa mulut ala Putu Wijaya tadi. Ya, ketika diberi mulut, semuanya langsung ingin bicara. Bahkan, sampai ada yang berteriak. Saya jadi bertanya, benarkah yang mereka suarakan itu benar-benar keinginan mereka? Ayolah, begitu punya mulut, si perempuan tadi kan langsung kemaruk. Dengan kata lain, entah apa-apa saja yang dia keluarkan dari mulutnya itu.
Maka, bukan sesuatu yang aneh ketika di Indonesia kini muncul orang-orang yang sok pakar. Tidak sulit menemukannya, lihat saja surat kabar yang ada di Medan. Atas nama news analysis dia berani memajang fotonya disamping tulisannya yang hanya beberapa paragraf saja. Saya akui, analisis memang bukan harus panjang, tapi mengarah dengan tepat. Ya, ada landasan permasalahan hingga teori apa yang dia gunakan untuk membedah masalah tadi. Ayolah, sudah cukupkah seorang pakar mengatakan ‘kedamaian yang paling kita inginkan’ terkait aksi demonstrasi penolakan BBM di Medan beberapa hari lalu? Bukankah kalimat itu juga bisa diucapkan oleh siapa saja? Siapa yang tak suka damai, tapi kenapa tak damai malah tidak dianalisis oleh orang yang katanya pakar itu.
Itulah yang dimaksud dengan asal bicara alias asal punya mulut seperti perempuan Putu Wijaya tadi. Nah, wakil rakyat yang beropera sabun tempo hari bagaimana? Entahlah, yang jelas, bak cerpen Mulut, unsur kemaruk ketika bisa bicara memang cenderung tampak. Sayangnya, aspirasi rakyat malah cenderung tak tampak. Lalu, news analysis saya terhadap masalah ini apa? Hm, maaf, saya belum pakar. (*) 

Sumut Pos, Selasa 3 April 2012

Minggu, 01 April 2012

Siaga di Jalanan Medan

Oleh Ramadhan Batubara

Ceritanya beberapa hari ini ada yang berbeda di Kota Medan. Tidak hanya satu dua orang yang merasakannya. Saya pastikan nyaris seluruh warga Medan merasakan hal itu. Ya, setiap kepala seakan dipaksa untuk terus siaga ketika berada di jalanan.
Setidaknya, bagi saya soal siaga di jalanan makin bertambah. Bayangkan saja, ketika turun ke jalan, berarti saya mengendarai sepeda motor yang saya beri nama Lena. Nah, kondisi Lena kini makin parah. Maklumlah, Lena bukan lagi gadis belia yang masih lincah. Dia sudah tua. Geraknya makin lambat. Ketika roda berputar, dia terasa mau lepas. Belum laga suara rantai dan mesin yang terlalu cepat panas. Ujung-ujungnya, kecepatan yang bisa saya pacu hanya empat puluh kilometer per jam; ini kecepatan maksimal.
Tapi sudahlah, kata orang, nikmatilah apa yang ada. Seperti kata dan sikap Putu Wijaya: berangkat dari yang ada. Maka, dalam sepekan terakhir,  saya pun berangkat dengan menunggangi Lena. Masalahnya, meski sudah saya nikmati, tetap saja saya harus siaga. Jalanan di Kota Medan tampaknya tak bersahabat dengan Lena. Di setiap sudut, jalanan nyaris memberikan hambatan bagi dia. Ya, ketika memasuki jalan kecil, polisi tidur menjadi musuh utama. Bahkan – seperti di Jalan Eka Sama di Kelurahan Gedung Johor – polisi tidur hadir nyaris di setiap lima meter. Tak pelak, Lena menjerit. Cengkeraman rem dan respon gas yang dimilikinya begitu menyedihkan. Lalu, ketika memasuki jalan protokol atawa jalan besar, Lena juga tak bisa bersaing. Kecepatannya menjadi masalah bagi pengendara lain. Bolak-balik kami diklakson. Tentu, ini bukan karena kami ugal-ugalan, tapi karena kami terlalu ‘sopan’. Ya, kecepatan kami membuat pengendara lain terhambat. Orang-orang yang bergegas marah, laju kami dianggap terlalu lambat. Tambah parah lagi, jalan besar juga tidak halus. Aspal bergelombang dan berlubang jadikan masalah makin parah. Lena terpaksa berbelok menghindari gelombang dan lubang. Saat berbelok ini, kendaraan lain tambah terganggu kan?
Kerepotan yang paling nyata adalah ketika Lena ingin menyalip. Kemampuan behitu minim. Ya, belum lagi setengah badan angkutan kota terlewati, ada pula kendaraan dari arah berlawanan. Terpaksa Lena mengalah, mengurangi kecepatan dan balik sembunyi di belakang angkutan kota. Parahnya, angkutan kota sudah biasa berbelok mendadak ketika ada penumpang yang turun atau ada yang akan naik. Tak pelak, Lena terdiam. Berhenti tepat di belakang angkutan tadi.
Tapi sudahlah, nikmati saja apa yang ada. Bukankah Lena sudah begitu banyak membantu saya. Kalau soal siaga, setiap pengendara memang wajib siaga ketika melaju di jalanan.
Menariknya, belakangan ini tidak pengendara saja yang siaga. Mereka yang berada di pinggir jalan juga wajib siaga. Oh, ini bukan soal Afriani dengan Xenia mautnya atau Marini dengan Avanza sialnya. Ini tentang aksi demonstrasi belakangan ini. Perhatikanlah atau kenanglah Medan beberapa hari ini. Di beberapa tempat ada sekian aparat keamanan yang bersiaga. Mereka bukan polisi lalu lintas atau anggota Dinas Perhubungan yang memang lazim siaga di pinggir jalan. Meraka adalah brimob dan bahkan tentara.
Soal siaga yang mereka tunjukan tampak jelas di sekitar kantor gubernur dan DPRD Sumut, kantor walikota dan DPRD Medan, Bandara Polinia, dan sebagainya. Di Medan Amplas, mereka bersiaga di depan gerbang tol Balmerah. Bahkan, mereka membuat tenda; tepat di bawah jembatan layang. Suasana seakan mau perang saja.
Kesiagaan yang mereka lakukan berangkat dari status Kota Medan yang menjadi Siaga Satu. Begitulah, keberadaan aksi menentang kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) memang wajib diamankan. Apalagi, soal siaga ini langsung diperintahkan Markas Besar Polri kepada Polisi Daerah Sumatera Utara melalui telegram rahasia.
Itulah sebab, wali kota Medan langsung mengintruksi bawahannya untuk siaga juga. "Kalau memang Siaga I sudah menjadi keputusan di Kota Medan, kami dari Pemko Medan akan mengimbau mulai dari kepala lingkungan, lurah, kecamatan dan aparat pemerintah di Kota Medan, saya perintahkan untuk secara bersama-sama menjaga kondusifitas kota," katanya.
Lalu, apa yang dilakukan warga kota? Jawabnya, ya siaga juga. Seperti saya dan Lena, yang wajib siaga agar tak jadi korban jalanan. Begitupun warga lain, meski memiliki sepeda motor atau mobil yang kemampuannya jauh lebih baik dari Lena, mereka juga wajib siaga untuk menghindari peristiwa tidak menyenangkan. Coba bayangkan ketika mereka tetap cuek dan lewat di wilayah Jalan Perintis Kemerdekaan pada Jumat malam lalu. Atau, melintasi kawasan Kampus USU di malam yang sama.  Wah, bisa jadi korban massa kan? Contohnya, seorang politisi dari Jakarta sana. Dia tidak siaga dan tidak memetakan demonstrasi di Medan, dia pun jadi korban ketika melintas di Jalan S Parman Jumat siang lalu bukan?
Begitulah, soal siaga memang bukan hanya karena status Siaga I. Jalanan di Medan memang wajib disiagai. Aspal bergelombang, polisi tidur, jalan berlubang, hingga lalu lintas yang cenderung ‘suka-suka’ adalah buktinya. Tapi yang harus diingat, siaga bukan berarti kita tidak turun ke jalan bukan? Maka, berjalanlah agar kehidupan di Medan tetap berputar. Itu saja. (*)



Sumut Pos, 1 April 2012
 
Free Website templatesfreethemes4all.comLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates