Lantun ini yang berisikan tentang pandangan hidup seseorang

Minggu, 06 Mei 2012

Demam


Oleh: Ramadhan Batubara

Cuaca tak jelas. Bukan pancaroba tapi anomali. Panas datang dan sesaat kemudian hujan. Hujan deras sesaat kemudian kering dan terik. Mungkin inilah yang membuat beberapa orang langsung demam.
Ujung dari demam adalah kerja jadi tak maksimal. Pimpinan kerja jadi repot, anak buahnya banyak yang mangkir. Demam pun dijadikan antagonis; tokoh yang menjijikkan; tokoh yang jelek; dan, tokoh yang harus dimatikan. Padahal, kalau mau bijak, sosok antagonis adalah tokoh penting dalam sebuah cerita. Dialah yang membangkitkan citra sang tokoh protagonis. Antagonis memang diciptakan jelek agar si protagonis tampak hebat.
Demam sebagai antagonis pun begitu. Ketika di sebuah perusahaan banyak karyawannya yang demam, maka yang sehat akan makin menonjol bukan?
Soal demam memang cukup meresahkan. Dia bukan penyakit hebat, malah istilah kawan saya: demam adalah penyakit kacangan. Tapi, demam mampu membuat seseorang tumbang. Fokus jadi hilang dan bisa membuat kerja berantakan. Itulah sebab hingga muncul demam-demam lainnya seperti demam panggung, demam lapangan, dan sebagainya.
Tapi, kenapa harus demam? Ya, bukankah penyakit tidak hanya demam? Kenapa tak ada malaria panggung atau malaria lapangan?
Mungkin karena demam adalah penyakit kacanganlah dia dijadikan sebutan untuk situasi tersebut. Maksudnya, demam bukanlah penyakit akut. Dia bisa sembuh hanya dengan istirahat sebentar. Paling cuma sehari dua hari saja. Jadi, demam cenderung bersifat sementara.
Nah, belakangan ini muncul juga demam lain. Namanya demam Pilgubsu. Perhatikan saja, beberapa tokoh mulai panas dingin. Mulai meriang melihat tokoh lain yang melakukan pencitraan. Bahkan, sampai ada yang mulai siap-siap pindah perahu partai karena takut kalah dukungan.
Situasi dan kondisi pergerakan tokoh-tokoh ini bak cuaca yang tak jelas. Anomali. Jadi bukan lagi masa pancaroba yang lebih mengarah pada perubahan cuaca yang standar seperti musim hujan ke musim kemarau. Dia mengarah kepada ketidaknormalan cuaca: hujan tiba-tiba dan panas tiba-tiba.
Situasi ini bisa menjadi riskan. Pendaftaran Pilgubsu masih lama, tapi para tokoh sudah sibuk. Bak demam tinggi, para tokoh mulai gemetar, panas dingin, pusing, bahkan sampai ada yang pusing. Tidak mereka saja, para pendukung mereka pun mulai pilek dan sibuk mencari obat agar batuk tak jadi berdahak.
Maka, beberapa tokoh mulai mencari dokter. Ya, dukungan dari dokter agar demam teratasi. Suntikan dari dokter muncul. Lalu, keluarlah pernyataan: tokoh A telah mendapat obat dari dokter B. Istilah politisnya: tokoh A direstui si polan (tokoh penting seperti pimpinan partai atau sosok penting lainnya) untuk memimpin Sumatera Utara.
Begitulah, soal demam memang tak membuat nyaman. Memang dia hanya penyakit kacangan, tapi dia bisa sangat berperan dalam menentukan nasib. Jadi, jangan sampai kena demam. Itu saja. (*)

Sumut Pos, Sabtu 5 Mei 2012

Tut Wuri Handayani


Oleh Ramadhan Batubara

Hari buruh, 1 Mei, telah lewat. Hari ini, 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional. Adakah yang masih ingat?

Tentu masih banyak yang ingat. Jika tidak, maka Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara akan sedih. Ya, usahanya dengan mendirikan Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda, seakan tersia-siakan. Pun, dengan semboyan hasil karyanya tut wuri handayani mengawang hingga tak lagi diterapkan. 



Terlepas dari itu, tut wuri handayani memang menarik jika dikaitkan dengan dunia pendidikan terkini di Indonesia. Bagaimana tidak, arti kata tut wuri handayani kini cenderung mengalami penyempit bahkan malah berubah makna.

Sejatinya, tut wuri handayani tidaklah berdiri sendiri. Dia adalah sebuah semboyan panjang. Secara utuh bunyinya: ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Semua kata yang terangkai tersebut mengarah kepada peran seorang guru. Kalau diterjemahkan, maka akan tergambar bagaimana harusnya seorang guru bersikap. Pertama, ing ngarsa sung tulada: ketika di depan seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik. Kedua, ing madya mangun karsa: di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide. Dan ketiga, tut wuri handayani: dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan.


Begitulah, entah apa sebabnya, semboyan panjang itu hanya diambil penggalan terakhirnya saja oleh Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia untuk dijadikan slogan. Apakah karena kepanjangan? Atau karena seorang guru tidak perlu memiliki peran yang begitu banyak?

Apapun sebabnya, kini guru dengan tut wuri handayani seakan tak mencerminkan sikap yang ideal lagi. Contohnya dalam agenda Ujian Nasional beberapa waktu lalui. Sebagai guru, beberapa pendidik memang masih memegang teguh tut wuri handayani tadi. Tapi, artinya berbeda dengan yang diharapkan Ki Hajar Dewantara. Oknum guru memang memberikan dorongan dan arahan. Masalahnya, dorongan arahan yang dimaksud tidak memancing murid untuk kreatif dan berusaha keras. Di beberapa tempat, para pendidik malah mengarahkan murid atau siswanya untuk berbuat curang. Murid diminta datang jauh lebih cepat dari jadwal ujian agar bisa ‘berkoordinasi’ soal jawaban. Nah, adakah hal itu yang diinginkan dari tut wuri handayani tadi?

Memang, tidak semua guru yang menjadi sosok tut wuri handayani murtad. Film Laskar Pelangi yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Andrea Hirata seakan menyadarkan Indonesia kalau masih ada guru yang berdedikasi tinggi. Ya, setidaknya Hirata mengangkat kisah nyata yang ada di Bangka Belitong dan memunculkan karakter seorang guru, Bu Muslimah, yang bermental tut wuri handayani. Tentu, masih banyak Bu Muslimah lain di Indonesia. Sayang, adakah yang tahu nasib mereka? Haruskah mereka dinovelkan lebih dahulu agar Indonesia sadar pentingnya tenaga pengajar?

Sekali lagi, ini soal tut wuri handayani. Tapi tolong, jangan baca sepenggal. Bacalah seperti yang diungkapkan Ki Hajar Dewantara: ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Selamat Hari Pendidikan Nasional! (*)

Sumut Pos, Rabu 2 Mei 2012

Minggu, 29 April 2012

Terapi Suara di Jalanan Sukaramai


Oleh Ramadhan Batubara

Capek. Marah. Suntuk. Dan, ujung-ujungnya, malas. Sekian rasa itu bisa dirasakan ketika Anda memasuki kawasan Sukaramai, tepatnya di perempatan Pajak Sukaramai itu.Tapi, saya tidak. Saya mendapati kenikmatan di sana. Ya, banyak musik di jalanan macet tersebut.


Sejatinya, saya sempat juga merasakan rasa yang tak menyenangkan itu. Tapi, itu dulu. Ya, tepatnya sekitar empat tahun lalu. Kebetulan saat itu saya kost di sebuah rumah di dekat Lapangan PJKA Mandala. Jadi, setiap pulang beraktivitas, apalagi saat siang, saya pasti melewati kawasan itu.

Saat pulang, biasanya saya mengambil jalur dari Jalan Halat berbelok kiri ke Jalan AR Hakim. Nah, selepas melewati pertigaan Jalan Bromo, kemacetan langsung tampak. Berulang kali saya suntuk, terjebak di antara becak motor dan angkutan kota berwarna kuning. Belum lagi pengendara mobil dan sepeda motor yang ramai membunyikan klakson. Musik jalanan yang sama sekali tak menyenangkan. Terbayanglah, jalan yang masih panjang. Jalan panjang penuh kemacetan. Ya, setelah tiba di perempatan Pajak Sukaramai, saya juga harus berbelok kanan menuju Jalan Denai. Lalu, belok kiri lagi, melintasi Jalan Mandala By Pass.

Ujung-ujungnya, setelah beberapa pekan tinggal di sana, saya selalu menghindari jalan tersebut. Saya pernah mencoba berputar dari arah Aksara sana lalu berbelok ke Jalan Mandala By Pass Tapi, sama saja, macet di Aksara juga kadang lebih ekstrem. Begitulah, setelah tiga bulan kost di sana, saya pun memilih untuk pindah.

Nah, kemarin siang saya melewati jalan itu lagi. Perempatan Pajak Sukaramai tetap sama. Pos polisi di sisinya seakan tak berpengaruh. Kemacetan tetap saja pemandangan yang tak terelakan. Tapi, entah kenapa, saya tidak merasa suntuk saat terjebak macet di sana. Saya menikmatinya. Suara klakson dan mesin kendaraan seakan menjadi musik yang indah. Apalagi, ada beberapa penjual CD yang mengeraskan suara musik. Mulai lagu India, Indonesia, dan Barat bercampur- aduk. Suara-suara itu menjadi sebuah teror rasa.  Mereka saling berebut masuk ke kuping saya yang hanya berjumlah dua. Saya tidak suntuk, tidak seperti sebelumnya.

Kalau harus saya pikir-pikir, seharusnya saya suntuk. Pasalnya, si Lena (sepeda motor saya) masih saja mengulah. Meski tidak mogok, lajunya kini semakin lambat. Nah, ketika ingin menyelip di kemacetan, Lena jadi tak lincah. Saya pun harus mengagungkan rasa sabar dan ikhlas ketika tersalip atau terdiam di pantat angkutan kota. Dan, siang kemarin, panas lagi menggila di Kota Medan. Itulah yang membuat saya bingung, kenapa saya tidak suntuk?

Tapi sudahlah, setidaknya kemarin saya senyum-senyum di sana. Ya, apa yang salah dengan suara yang berisik? Keberisikan dianggap mampu membuat orang sadar dari lamun kan? Ayolah, dalam kemacetan, apa lagi yang bisa dilakukan orang selain melamun. Jika marah, orang lain pasti akan tambah marah. Siapa yang suka macet. Dan, siapa yang suka melihat orang marah karena macet. Apalagi, macet dalam suasana yang begitu panas. Maka, melarikan diri dari macet dengan melamun adalah pilihan terbaik.

Buktinya, di samping saya, pengemudi mobil terlihat memandang jalan macet dengan pandangan kosong. Terlihat matanya menerawang jauh, seperti memikirkan sesuatu. Lelaki tanpa janggut tapi berkumis yang mengemudikan sedan tua berwarna hitam itu bahkan terlihat mengantuk. Dia membuka kaca jendela, tampaknya pendingin mobil tidak berfungsi. Tangan kirinya memegang-megang kumis. Tangan kanannya bersandar di jendela yang terbuka. Benar-benar posisi tubuh yang menunjukkan sikap tanpa semangat.

Tiba-tiba, dari sisi jalan yang lain terdengar suara klakson membahana. Lelaki pengemudi itu tersentak. Dan, dia langsung sigap memegang kemudi. Sepertinya dia tersadar kalau masih berada di jalan yang macet. Semangatnya pun kembali muncul.

Kenyataan ini membuat saya teringat dengan berita koran hari ini. Wakil Presiden Boediono mengeluhkan suara azan yang lantang. Katanya, kenapa harus keras suara panggilan salat itu, bukankah suara yang sayup-sayup lebih menyentuh. Fiuh.

Pak Wapres tampaknya harus ketemu dengan lelaki pengemudi tadi. Ya, biar tahu bagaimana pentingnya suara klakson yan membahana itu. Kalau bicara soal panggilan hati, seharusnya lelaki pengemudi tadi kan tidak boleh terlena dalam lamunan. Dia sedang di jalan macet, dia harus waspada bukan? Persis dengan umat Islam, soal panggilan hati, tanpa azan yang keras pun dia akan salat karena itu kewajiban. Tapi, bukankah mengingatkan orang untuk sadar adalah kewajiban juga? Azan adalah sebuah pengingat. Sebagai pengingat dia harus terdengar, seperti klakson tadi. Bayangkan saja jika ada larangan suara klakson di jalanan, adakah pengguna jalan tetap waspada?

Begitulah kemacetan di Kota Medan ternyata mengusik kesadaran saya. Suara-suara yang bercampur-aduk di sekitar Pajak Sukaramai kini bak hiburan bagi saya. Ya, sebuah pesta musik gratis. Semacam terapi kesadaran, bahwa keberisikan lalu lintas sejatinya adalah sebuah pengingat agar pengguna jalan mampu mengendalikan diri. Itu saja. (*)

Sumut Pos, Minggu 29 April 2012

Rabu, 25 April 2012

Wisata Syahwat

Oleh Ramadhan Batubara


Senayan murka. Dua warganya terekam dalam kamera sedang asyik geboy. Dan, ini bukan yang pertama. Berbagai pertanyaan pun mengemuka. Kenapa bisa? Siapa yang mengedarkan? Kok mau direkam? Kewibawaan dan keberanian mereka saat bicara atas nama rakyat pun langsung pudar. Soal syahwat memang bisa bikin gawat.
Menariknya, kasus politisi mesum bukan pula baru. Ada beberapa nama yang sempat tersangkut sebelumnya, sebut saja Yahya Zaini yang terlibat skandal video porno dengan penyanyi dangdut Maria Eva. Seakan tak kapok, di video yang baru ini, dua politisi dari partai ternama itu terkesan bangga menunjukkan hal-hal pribadi mereka. Pertanyaannya, benarkah kedua orang yang terekam itu benar anggota dewan? Pakar telematika yang kini juga sudah menjadi anggota dewan, Roy Suryo, sama sekali tak membantah. Kepada media, dia mengaku sudah mempelajari sejumlah kolase foto adegan yang diambil dari source asli video porno tersebut. Menurut Roy, tidak ada rekayasa atau editing apa pun terhadap sosok perempuan yang terlihat dalam kolase foto itu. Sedangkan sosok prianya dia mengaku tidak bisa mengidentifikasi karena tidak terlihat.
Nah, karena hal semacam itu terus berulang, apakah kejadian itu patut disayangkan atau malah dibanggakan?
Pasalnya, bagi beberapa kalangan tersebarnya video itu adalah sebuah berkah. Bak wisata syahwat yang murah. Ayolah, kapan lagi bisa menonton orang ternama beradegan mesum. Dan, menontonnya pun cukup melalui ponsel atau di internet.
Soal rekam-merekam ini memang lucu. Cukup sulit dicari latar belakang perekaman. Pasalnya, kedua politisi itu bukan suami istri. Nah, namanya selingkuh, berarti harus ditutup-tutupi bukan? Dengan kata lain, jangan sampai meninggalkan jejak. Seorang kawan saya saja harus naik angkutan kota jika ingin selingkuh. Ya, dia takut mobilnya terlihat di tempat selingkuhnya itu. Padahal, dia bukan anggota dewan.
Nah, kok bisa ada anggota dewan yang mau merekam perselingkuhan? Tentu, semua pasti ada sebab. Bisa saja perekaman itu demi niat tertentu untuk di masa mendatang. Misalnya, untuk pemerasan atau apalah. Tapi, bisa saja perekaman itu sama sekali tanpa niat jelek. Bisa saja keduanya begitu bangga untuk tampil di kamera. Maklumlah, mungkin mereka keturunan Dewa Narcissus – sang asal kata narsis itu.
Keberadaan ponsel yang dilengkapi kamera atau kamera yang harganya sudah begitu terjangkau memang cukup beralasan untuk menjadikan orang bertambah narsis. Perhatikanlah di beberapa jejaring sosial, begitu banyak yang jual tampang. Ada pula yang selalu mengganti foto profilnya setiap dia pindah tempat. Luar biasa bukan?
Nah, dua politisi tadi bagaimana? Apakah perbuatan mereka buah dari kenarsisan atau kesialan?
Terserahlah, yang jelas, video mereka cukup memuaskan para pelancong syahwat. Video mesum orang Indonesia kabarnya paling diminati oleh orang Indonesia. Istilahnya, kalau nonton film karya anak bangsa, soul-nya dapat. Selain itu, fisik yang ditonton tidak jauh beda dengan yang menonton, jadi kalau dikhayalkan bisa langsung pas. Begitulah, atas nama syahwat, nikmati saja. (*)

Sumut Pos, Rabu 25 April 2012

Minggu, 22 April 2012

Tak Ada Bunga Melati di Pajak Melati

Oleh Ramadhan Batubara

Kali ini soal nama. Ada banyak nama tempat di Indonesia ini yang tidak sesuai dengan namanya. Di Medan, nama Pajak Melati menggugah penasaran saya. Maka, kemarin saya datangi tempat itu.

Pukul setengah tiga sore. Saya pacu Lena membelah jalanan kota. Saya sangat percaya diri dengan kondisi si Lena. Pasalnya, sepeda motor keluaran tahun 2004 itu sehari sebelumnya telah saya servis.

Dari Jalan Panglima Denai (tempat tinggal saya) hingga Jalan Brigjen Katamso perjalanan sangat lancar. Begitu juga ketika berbelok ke Jalan Avrost.  Bahkan, saya sempat membeli lima potong tahu yang ramai dijual di seputaran jembatan yang ada di Jalan itu.

Tapi, begitu melewati pos penjagaan dan berbelok ke kiri menuju Jalan SMA 2, si Lena tiba-tiba merajuk. Dia mogok. Sial. Saya cek bensin masih penuh. Saya lihat busi, tak bermasalah. Ampun, mendorong pun jadi langkah terakhir.

Sekira 500 meter dari SMA 2, ada bengkel. Saya mampir di sana dan berharap Lena dapat disembuhkan. Pajak Melati tujuan saya masih jauh. Ah...tukang bengkelnya kurang menjanjikan. Dia tak mendengar keluhan saya, dia malah sibuk membongkar Lena hingga bugil. Mau jam berapa lagi tiba di Pajak Melati!

Dua puluh ribu ongkos obati si Lena. Fiuh. Kata sang tukang bengkel, tenggorokan Lena agak sakit, jadi kurang lancar dia minum bensin. Sudahlah.

Berangkat. Tiba di Pajak Melati  pukul lima. Sudah mulai sedikit pengunjungnya. Namun, para penjaja barang-barang bekas dari luar negeri itu tetap saja semangat. Saya masuk gang yang penuh dengan baju. Terus masuk ke dalam dan saya dapati berbagai barang yang menggoda. Bayangkan saja, di atas baju yang ditumpuk, terpampang harganya: sepuluh ribu tiga.

Saya masuk ke subgang; ada banyak gang di gang yang saya masuki tadi. Dan, saya memilih duduk di sebuah lapak yang telah tutup. Di sinilah saya menulis lantun ini. Menarik. Ada suasana yang menyenangkan; di samping saya ada dua bapak main catur. Hahahah... Mereka kurang fokus, langkah mereka beberapa kali terhenti karena ada pembeli.

Begitulah, duduk di jantung Pajak Melati, saya kembali berpikir soal nama tempat ini. Pasalnya, sejak tadi saya tak melihat ada yang menjual bunga melati. Pajak ini -- bahasa Indonesianya, pasar -- hanya menjual barang bekas impor. Berbagai barang terpampang, semuanya dijual dengan harga miring. Suasananya mirip Pasar Ular di Jakarta, bedanya di sana cenderung menjual barang elektronika dan parfum impor. Di sini, ya itu tadi, baju dan sepatu.

Persis dengan Pasar Ular, beberapa kali ke sana, saya memang tak menemukan pedagang yang menjual ular. Jadi, saya pun paham kalau di sini tak ada yang jual melati.

Soal nama yang berbeda dengan apa yang dijual memang tidak asing lagi. Selain Pajak Melati, di Medan juga ada Pajak Ikan yang sama sekali tidak menjual ikan: suatu saat saya akan ke sana.

Nah, ada juga nama tempat -- yang menggunakan nama 'pasar' -- yang cenderung sesuai dengan barang yang dijual. Contohnya, di Solo. Di sana ada Pasar Kembang dan yang dijual memang kembang. Tidak aneh bukan? Tapi, selang beberapa puluh kilometer ke arah barat, ada juga Pasar Kembang tepatnya di Jogja. Di kota itu, Pasar Kembang juga menjual kembang, tapi kembang yang dimaksud adalah 'kembang'. Hehehehe, perempuan maksudnya. Ya, Pasar Kembang di Jogja memang dikenal dengan wisata seksnya.

Tapi, itulah nama pasar atau pajak yang menggoda pikiran saya. Pajak Melati adalah ruang yang menarik di kota ini. Kemunculannya sebagai tempat barang bekas impor memang terhitung baru. Sebelumnya, Jalan Mongonsidi adalah raja barang-barang itu. Bahkan, ruang jual di sana begitu indentik dengan barang bekas. Hingga, barang bekas impor pun dinamakan dengan Monza yang merupakan akronim dari Mongonsidi Plaza.

Nah, kehadiran Pajak Melati, secara langsung atau tidak telah menggeser keberadaan 'plaza' di Jalan Mongonsidi. Di jalan itu, kini hanya tinggal beberapa kios. Dan barang yang dijual pun semakin terbatas, hanya tas dan ambal.

Tapi sudahlah, kunjungan saya ke Pajak Melati memang harus berakhir. Ada batasan waktu. Kalau saja Lena tak mengulah, mungkin saya bisa lebih lama 'mengobrak-abrik' pajak itu. Saya pulang. Ada nasi goreng dengan andaliman yang menunggu saya di Kafe Tradisi di Jalan Setia Budi. Ada yang mau ikut? (*)

Sumut Pos, Minggu 22 April 2012

Kamis, 19 April 2012

Jersey

Oleh Ramadhan Batubara

Andik Vermansyah, gelandangan Indonesia Selection, tak pernah membayangkan akan mendapat jersey atawa kostum David Beckham. Apalagi, sampai membayangkan sang bintang itu memintanya untuk bertukar jersey.
Tapi begitulah, ketika November lalu, saat Indonesia Selection menjamu klub asal Amerika Serikat LA Galaxy, Andik memang menjadi bintang. Bahkan, si Beckham sampai melakukan perbuatan curang agar pergerakan Andik terhenti. Itulah sebab, ketika pemain Indonesia lainnya sibuk mengincar jersey-nya, suami Victoria itu malah sibuk mencari Andik. Mungkin, dia merasa bersalah dengan pemain Persebaya tersebut. Sebuah jersey adalah bentuk maaf ala Beckham.
Lain lagi dengan Boaz Salossa. Ketika Indonesia menjamu Timnas Uruguay – sebulan sebelum kisah Andik dan Beckham tadi – jagoan asal Papua itu juga mendapat jersey bintang. Adalah Luis Suarez, striker kebanggaan Uruguay yang memberikan jersey-nya pada Boaz. Alasannya, Boaz adalah satu-satunya pemain Indonesia yang berhasil mencetak gol ke gawang Uruguay. Saat itu Indonesia dipermalukan Uruguay 1-7.
Soal tukaran jersey memang sudah menjadi tradisi di sepakbola. Perhatikan saja, nyaris di setiap laga usai, para pemain saling bertukar jersey. Bahkan, Lionel Messi – bintang Barcelona dan Argentina – sempat mengeluh karena bajunya itu menjadi incaran pemain lawan. Tidak tanggung-tanggung, beberapa pemain malah sudah meminta pada Messi ketika laga belum usai.
Sayangnya, di Sumut, soal ganti jersey belum begitu trend. Setiap PSMS main di Teladan, perhatikanlah, jarang ada yang bertukar jersey. Entahlah, mungkin di Sumut dan secara umum klub Indonesia, jersey masih tergantung pada dana bukan?
Jika di sepakbola Sumut belum marak, tukaran jersey malah marak di dunia politik Sumut. Beberapa politisi Sumut malah tak segan-segan bertukar jersey-nya. Sebut saja HT Milwan, Ali Umri, Arifin Nainggolan dan sebagainya.
Tentu, pergantian jersey yang mereka lakukan atas dasar pertimbangan matang. Ya, tidak sekadar bertukar baju. Pasti ada hitung-hitungannya. Atas nama politik, bukankah hal itu lumrah. Seperti teori klasik ala Aristoteles: politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Nah, mereka yang menjadi politisi harus berpikir cerdas demi kebaikan bukan? Jadi, ketika seorang politisi merasa baju yang dikenakannya sudah tidak bisa mewakili aspirasinya, ya, tinggal ganti baju; ketika seorang politisi merasa baju yang dikenakannya sudah tidak mewakili kebaikan, ya, tinggal ganti baju. Masalah kebaikan bersama atau pribadi kan itu urusan nanti.
Bedanya dengan sepakbola, tukaran jersey tidak mengubah nasib sang pemain. Andik tetaplah Andik dan tidak berubah menjadi Beckham. Pun dengan Boas yang tidak langsung menjadi pemain Liverpool dan Uruguay. Mereka tetap menjadi diri mereka sendiri. Jersey yang telah mereka miliki hanyalah kebanggaan bagi anak dan cucu mereka nanti. Semakin banyak jersey yang mereka koleksi, maka semakin bangga dia menuliskan kisah hidupnya.
Di politik, tukaran baju berarti kontrak baru, sikap baru, hingga tujuan baru. Repot dan bahkan bisa menjadi senjata makan tuan. Tapi, sekali lagi, begitulah politik. Risiko demi kebaikan bersama itu memang besar. Mereka yang berani tukar baju berarti memiliki dasar yang kuat. Tidak sembarangan itu! (*)

Sumut Pos, Kamis 19 April 2012

Senin, 16 April 2012

Lupakan Sakit di Kantin Rumah Sakit

Oleh Ramadhan Batubara

Sabtu siang di Rumah Sakit Haji, Medan. Ada tatapan syahdu. Ada gerak yang kaku. Ada rintihan. Ada tangis. Saya malah duduk di kantin sambil berbincang dan asyik tertawa.
Bukan maksud untuk mengejek mereka yang sakit. Perbincangan kami memang asyik. Apalagi, suasana di kantin ini sama sekali tak mencerminkan rumah sakit. Ada keriuhan. Ada celoteh panjang. Dan, ada tawa yang tak harus ditahan.
Selain itu, di beberapa meja dari kami ada beberapa dokter koas yang asyik merokok. Mereka sibuk menggosip. Entahlah, tak begitu terdengar kalimat mereka. Sesekali tawa mereka membahana. Itu saja. Namun, dari bahasa tubuh mereka tampak kalau perbincangan tidak jauh dari urusan wanita. Setidaknya, pandangan empat lelaki itu sesekali melirik kumpulan wanita di meja yang lain.
Tiba-tiba seorang lelaki setengah baya muncul. Dia tidak sendiri, dia mendorong lelaki lebih tua di kursi roda, mungkin bapaknya. Mereka memilih meja yang berada tepat di samping gerombolan dokter koas tadi. Kehadiran mereka di posisi itu jelas saja menghalangi pandangan saya pada dokter-dokter koas tadi.
Lalu, sang bapak sudah berada di depan meja. Kursi yang sebelumnya telah ada di sana dipinggirkan. Sang lelaki setengah baya belum duduk juga. Dia berbalik dan menjumpai salah satu penjual; di kantin ini memang cukup banyak penjual; beraneka makanan hingga jajanan ditawarkan; ada juga yang jual majalah dan koran. Dia memesan sesuatu, jelas tidak bisa saya dengar pesanannya itu.
Tak lama kemudian, setelah lelaki itu duduk, datang pelayan. Dia membawa segelas teh manis panas dan sebuah piring yang terbuat dari anyaman rotan. Dia meletakan pesanan itu begitu saja di meja. Lelaki separuh baya tadi memindahkan gelas teh manis ke depan si bapak. Lelaki itu meletakkan piring anyaman rotan tadi di depannya. Terlihat ada daun pisang di permukaan piring itu. Lalu, setumpuk nasi dan ayam goreng tergeletak di sana. Tentu, sambal dan lalapan tidak ketinggalan: pecel ayam. Lelaki tiu pun mulai menyobek ayam tadi; makan.
Tapi, saya lihat, dari balik mereka, asap yang dihasilkan para dokter koas tadi juga belum hilang. Susana riuh pun masih meraja. Sementara, sang bapak di kursi roda sibuk tersenyum. Melihat kiri-kanan, mungkin dia rindu sehat. Mungkin karena itulah, dia memaksa untuk ke kantin. Mungkin, kantin dianggapnya bisa menjadi penyemangat; sesuatu yang hidup memang bisa menjadi sugesti bukan?
Sayangnya, cuaca saya rasa cukup panas. Seandainya saat ini hujan rintik, mungkin akan tambah menyenangkan. Ya, di kantin ini, suasana rumah sakit memang tak ada. Kalaupun ada, hanya terletak pada pakaian dokter koas atau perawat saja. Beruntung jika mendapat beberapa pasien yang lewat. Suasana mirip kantin di Kampus Sastra Universitas Sumatera Utara.
Tapi sudahlah, soal kantin, saya juga teringat dengan kantin di rumah sakit, saya ingat sekita tiga tahun lalu. Ya, saya menikmati kopi di kantin Rumah Sakit dr Pirngadi. Tiga tahun lalu, kantin di rumah sakit itu berada di lantai tiga. Tempatnya tertutup dan tenang. Setengah dindingnya dilapisi kaca, jadi mereka yang berada di dalam kantin bak ada dalam akuarium.
Lain lagi Rumah Sakit Adam Malik Medan. Di rumah sakit itu, kantin cenderung terbuka: beratap langit. Kantin itu hanya dilindungi beberapa pohon rindang. Suasana malah mirip kafe. Bangkunya melingkari meja. Jarak satu meja denga meja pun cukup jauh.
Intinya, ketiga kantin di atas sama sekali tak mencerminkan rumah sakit yang 'seram' dan bau obat. Terus terang, saya menikmati hal itu. Saya merasa lenyap sesaat dari saya sedih karena saudara yang dirawat. Ya, persis jam istirahat dalam pertandingan bola.
Mungkin, karena itulah, para dokter koas tadi asyik berbincang sambil merokok dan beberapa kali terbahak. Meski belum menjadi dokter penuh, beban mereka kan berat juga. Setidaknyan kostum yang mereka gunakan sudah mirip dokter.
Sayangnya, ketika saya melihat bapak yang mengenakan kursi roda itu, saya miris lagi. Pasalnya, beberapa kali dia mengibaskan tangannya. Asap rokok dokter koas itu mengganggu hidungnya. Nah, kemirisan saya malah terletak pada ketidakpekaan para dokter koas. Mereka terus saja merokok. Ah, bukankah harusnya mereka mematikan rokok itu? Dan, bukankah mereka adalah bagian dari kaum yang terus melakukan kampanye keburukan dari akibat merokok. Bahkan, mereka bangga mengatakan kalau perokok pasiflah yang paling berbahaya. Lalu, bapak berkursi itu bagaimana?
Tapi sudahlah, seorang penegak hukum juga belum tentu sadar hukum bukan? Seorang pegawai pajak pun bisa mengemplang pajak. Jadi, hal semacam itu sudah biasa di negeri ini.
Pun, soal sakit. Ada kalanya, dokter menyerah. Persis yang dialami saudara saya. Bayangkan saja, dokter yang merawatnya malah membiarkan dia berobat secara alternatif. Saya terkejut. Tapi, kata keluarganya saudara saya, pilihan memakai jasa 'orang pintar' sudah diketahui dan disetujui dokter. Bah, jika begitu, kenapa harus ke rumah sakit. Kenapa harus dirawat di ruang Jabal Rahmah. Praktis, rumah sakit hanya menyediakan tempat menginap saja kan? Ya, paling ditambah makanan dan obat kan? Apalagi, sewa kamar per malamnya mencapai Rp300 ribu. Bah, angka itu sudah sama dengan kamar standar hotel berkelas di kota ini kan?
Tapi, sekali lagi, sudahlah. Setidaknya saat ini saya berada di kantin. Dan, saat duduk di sini, tak elok rasanya memikirkan penyakit. Bukankah kantin di rumah sakit diciptakan untuk itu? Ah, entahlah. (*)


Sumut Pos, Minggu 15 April 2012
 
Free Website templatesfreethemes4all.comLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates