Oleh Ramadhan Batubara
Pulang kerja dini hari. Bagi sebagian orang mungkin aneh, tapi bagi saya
dan teman-teman yang kerja di meja redaksi hal itu sangat biasa. Tidak kami
saja, beberapa kawan lain yang kena jam kerja malam, pulang malam juga jadi
lumrah.
Tidak seperti pekerja kebanyakan yang pulang sore hari, kami yang pulang
dini hari cenderung lebih nyaman. Pasalnya kemacetan Kota Medan sama sekali tak
tampak. Jalanan begitu lega. Kami pun bisa sesuka hati melajukan kendaraan
kami; saya tentunya tetap nyantai karena si Lena (sepeda motor saya) pemalu;
dia tak suka (baca, tak bisa) kencang. Hehehehe...
Berhubung si Lena pemalu, saya memiliki kesempatan yang banyak untuk melihat
pemandangan malam. Dan, untuk bagian ini saya jadi sering memuji si Lena.
Sumpah, sangat berbeda ketika sore atau siang: saya lebih sering memakinya. Ya,
pada dini hari kecepatan si Lena stabil di titik 30 km/jam. Sebuah kecepatan
yang nyaman karena dihiasi dengan angin sepoi-sepoi.
Dan, beberapa malam dalam pekan lalu, setiap pulang kerja saya menjumpai
beberapa pemandangan yang mengusik kepala. Saya melihat banyak warga Medan yang
seperti terjaga di sekitar jalan. Bahkan, beberapa kali saya melihat ada warga
yang tidur di sekitar jalan seakan mereka tak punya rumah.
Soal mereka yang seperti terjaga, tentunya bukan para pekerja malam seperti
saya. Misalnya, pada Rabu dini hari lalu. Ada seorang laki-laki di perempatan
Amplas. Dia berdiri di dekat lampu merah. Sendirian. Dan, saat itu suasana
sedang dingin sehabis hujan di sekitar Amplas. Melihatnya, saya jadi ingat lagu
yang dipopulerkan Iwan Fals:
Orang gila di lampu penyeberangan//Jam dua malam//Lewat pada saat lampu
sedang merah//Tepat di tengah
tengah zebra cross//Irama langkahnya tidak berubah//Seperti lagu lama yang
aku dengar menuju pulang//Sendirian.
Ya, lelaki yang saya lihat itu memang menunjukkan tingkah orang yang terganggu
mentalnya. Dia berdiri, diam di pinggir lampu merah. Meski tidak berjalan dan
menyeberang zebra cross seperti yang disebutkan Iwan Fals, lelaki itu tampak
begitu menyedihkan. Pakaiannya hanya celana pendek dan baju yang kusam.
Rambutnya panjang dan tak terawat.
Saya tak berhenti. Saya pun tak ingin sekadar berbasa-basi dengannya. Tentu,
saya bingung bagaimana cara menegurnya. Tapi sudahlah, setidaknya saya
menyadari bahwa di Kota Medan ini masih ada warga yang butuh pertolongan
terbiarkan begitu saja. Bayangkan, lelaki itu paling masih berusia tiga puluhan
awal; usia produktif. Fiuh, sebegitu
kejamkah hidup ini hingga dia begitu?
Lalu, pada dini hari yang sama, saya pun menemukan orang lain. Mereka tertidur
di sekitar jalan. Tepatnya di Kawasan Simpang Limun. Ceritanya, ada keharusan
saya untuk mampir di sebuah SPBU. Nah, bukan mengisi premium, tapi saya ingin
mengambil uang. Di SPBU itu ada mesin anjungan tunai mandiri. Di saat itulah
saya lihat beberapa pekerja SPBU tersebut tertidur. Mereka bersarung dan
memakai topi gunung. Kursi plastik seperti di warung mie Aceh pun mereka
jadikan tempat. Mereka hanya berdua. Dan mereka mengumpul di dekat salah satu
mesin BBM itu. Fiuh, sebegitu
beratkah hidup ini hingga mereka harus begitu?
Tidak sampai di situ saja, keluar dari SPBU, saya menemukan lagi orang yang
tertidur. Letaknya di pertigaan Simpang Limun itu. Beberapa abang becak tampak
nyaman tidur di jok becaknya. Ah, sebegitu beratkah mencari nafkah hingga
mereka harus begitu?
Menyadari beberapa pemandangan tersebut, saya menjadi berpikir untuk memutari
Kota Medan secara menyeluruh. Ayolah, yang saya lihat masih di sebagian kecil
Kota Medan, jadi bukan tidak mungkin saya akan melihat pemandangan serupa di
belahan kota yang lain.
Sayang, tubuh terasa letih. Saya merasa tak sanggup untuk menunaikan keinginan
kepala itu. Yang jelas, sekadar menenangkan kepala, saya anggap masih banyak
orang seperti itu di Medan. Ya, mereka yang tertidur di sekitar jalanan kota.
Dan, mereka yang tampaknya terjaga padahal kesadarannya tertidur seperti lelaki
di persimpangan Amplas
tadi.
Begitulah, di jalan menuju pulang, saya berpikir: kota ini memang sedang
tertidur. Ya, apa yang dilakukan kota ini bak sebuah tidur panjang.
Perhatikanlah, adakah kota ini bergerak layaknya orang yang sadar? Saya tidak
melihat gerak itu, kota ini hanya menjalankan apa yang sudah dijalankan.
Lihatlah, soal banjir pun masih menjadi
pekerjaan rumah yang belum selesai. Kalau tidak sedang tidur, pasti banjir
itu bisa diselesaikan.
Namanya tidur, tentunya bisa menghasilkan mimpi. Dan, mimpi itulah yang
terus melenakan Medan. Mimpi buruk untuk mereka yang tak beruntung dan mimpi
indah untuk yang beruntung. Dan, setelah bangun nanti, Medan baru sadar kalau
sudah banyak tertinggal dibanding kota lain.
Bah, tiba-tiba saya kok persis yang dinyanyikan Iwan Fals:
Melangkah terus lurus kedepan//Melangkah terus lurus kedepan//Kamu sapa
siapa saja//Selamat malam//
Selamat malam.
Ya, selamat malam. (*)



0 komentar:
Posting Komentar