Lantun ini yang berisikan tentang pandangan hidup seseorang

Minggu, 20 Mei 2012

Mereka Tidur di Jalanan Kota Medan


Oleh Ramadhan Batubara

Pulang kerja dini hari. Bagi sebagian orang mungkin aneh, tapi bagi saya dan teman-teman yang kerja di meja redaksi hal itu sangat biasa. Tidak kami saja, beberapa kawan lain yang kena jam kerja malam, pulang malam juga jadi lumrah.

Tidak seperti pekerja kebanyakan yang pulang sore hari, kami yang pulang dini hari cenderung lebih nyaman. Pasalnya kemacetan Kota Medan sama sekali tak tampak. Jalanan begitu lega. Kami pun bisa sesuka hati melajukan kendaraan kami; saya tentunya tetap nyantai karena si Lena (sepeda motor saya) pemalu; dia tak suka (baca, tak bisa) kencang. Hehehehe...

Berhubung si Lena pemalu, saya memiliki kesempatan yang banyak untuk melihat pemandangan malam. Dan, untuk bagian ini saya jadi sering memuji si Lena. Sumpah, sangat berbeda ketika sore atau siang: saya lebih sering memakinya. Ya, pada dini hari kecepatan si Lena stabil di titik 30 km/jam. Sebuah kecepatan yang nyaman karena dihiasi dengan angin sepoi-sepoi.

Dan, beberapa malam dalam pekan lalu, setiap pulang kerja saya menjumpai beberapa pemandangan yang mengusik kepala. Saya melihat banyak warga Medan yang seperti terjaga di sekitar jalan. Bahkan, beberapa kali saya melihat ada warga yang tidur di sekitar jalan seakan mereka tak punya rumah.

Soal mereka yang seperti terjaga, tentunya bukan para pekerja malam seperti saya. Misalnya, pada Rabu dini hari lalu. Ada seorang laki-laki di perempatan Amplas. Dia berdiri di dekat lampu merah. Sendirian. Dan, saat itu suasana sedang dingin sehabis hujan di sekitar Amplas. Melihatnya, saya jadi ingat lagu yang dipopulerkan Iwan Fals:

Orang gila di lampu penyeberangan//Jam dua malam//Lewat pada saat lampu sedang merah//Tepat di tengah
tengah zebra cross//Irama langkahnya tidak berubah//Seperti lagu lama yang aku dengar menuju pulang//Sendirian.

Ya, lelaki yang saya lihat itu memang menunjukkan tingkah orang yang terganggu mentalnya. Dia berdiri, diam di pinggir lampu merah. Meski tidak berjalan dan menyeberang zebra cross seperti yang disebutkan Iwan Fals, lelaki itu tampak begitu menyedihkan. Pakaiannya hanya celana pendek dan baju yang kusam. Rambutnya panjang dan tak terawat.

Saya tak berhenti. Saya pun tak ingin sekadar berbasa-basi dengannya. Tentu, saya bingung bagaimana cara menegurnya. Tapi sudahlah, setidaknya saya menyadari bahwa di Kota Medan ini masih ada warga yang butuh pertolongan terbiarkan begitu saja. Bayangkan, lelaki itu paling masih berusia tiga puluhan awal; usia produktif. Fiuh, sebegitu
kejamkah hidup ini hingga dia begitu?

Lalu, pada dini hari yang sama, saya pun menemukan orang lain. Mereka tertidur di sekitar jalan. Tepatnya di Kawasan Simpang Limun. Ceritanya, ada keharusan saya untuk mampir di sebuah SPBU. Nah, bukan mengisi premium, tapi saya ingin mengambil uang. Di SPBU itu ada mesin anjungan tunai mandiri. Di saat itulah saya lihat beberapa pekerja SPBU tersebut tertidur. Mereka bersarung dan memakai topi gunung. Kursi plastik seperti di warung mie Aceh pun mereka jadikan tempat. Mereka hanya berdua. Dan mereka mengumpul di dekat salah satu mesin BBM itu. Fiuh, sebegitu
beratkah hidup ini hingga mereka harus begitu?

Tidak sampai di situ saja, keluar dari SPBU, saya menemukan lagi orang yang tertidur. Letaknya di pertigaan Simpang Limun itu. Beberapa abang becak tampak nyaman tidur di jok becaknya. Ah, sebegitu beratkah mencari nafkah hingga mereka harus begitu?

Menyadari beberapa pemandangan tersebut, saya menjadi berpikir untuk memutari Kota Medan secara menyeluruh. Ayolah, yang saya lihat masih di sebagian kecil Kota Medan, jadi bukan tidak mungkin saya akan melihat pemandangan serupa di belahan kota yang lain.

Sayang, tubuh terasa letih. Saya merasa tak sanggup untuk menunaikan keinginan kepala itu. Yang jelas, sekadar menenangkan kepala, saya anggap masih banyak orang seperti itu di Medan. Ya, mereka yang tertidur di sekitar jalanan kota. Dan, mereka yang tampaknya terjaga padahal kesadarannya tertidur seperti lelaki di persimpangan Amplas
tadi.

Begitulah, di jalan menuju pulang, saya berpikir: kota ini memang sedang tertidur. Ya, apa yang dilakukan kota ini bak sebuah tidur panjang. Perhatikanlah, adakah kota ini bergerak layaknya orang yang sadar? Saya tidak melihat gerak itu, kota ini hanya menjalankan apa yang sudah dijalankan. Lihatlah, soal banjir pun masih menjadi
pekerjaan rumah yang belum selesai. Kalau tidak sedang tidur, pasti banjir itu bisa diselesaikan.

Namanya tidur, tentunya bisa menghasilkan mimpi. Dan, mimpi itulah yang terus melenakan Medan. Mimpi buruk untuk mereka yang tak beruntung dan mimpi indah untuk yang beruntung. Dan, setelah bangun nanti, Medan baru sadar kalau sudah banyak tertinggal dibanding kota lain.

Bah, tiba-tiba saya kok persis yang dinyanyikan Iwan Fals:

Melangkah terus lurus kedepan//Melangkah terus lurus kedepan//Kamu sapa siapa saja//Selamat malam//
Selamat malam.

Ya, selamat malam. (*)

Sumut Pos, Minggu 20 Mei 2012

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website templatesfreethemes4all.comLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates