Lantun ini yang berisikan tentang pandangan hidup seseorang

Kamis, 26 Februari 2015

15 Februari 2015



Aktif(is)


Pada 2, 3, dan 4 April 1998 lalu, tanpa diduga, demonstrasi menuntut reformasi di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta ricuh. Seratus lebih mahasiswa dan pemuda cedera. Mereka tidak siap. Sementara, di sisi lain, aparat keamanan telah menyiapkan diri dengan pentungan dan tameng.
Maka, Gelanggang Mahasiswa yang berada di seputaran Bundaran UGM berbau amis. Hall Teater Gadjah Mada merah. Darah berceceran.
Beberapa kawan yang kabarnya luka malah hilang.
Setelah para aparat kembali ke barak, kepanikan belum juga hilang. Saya dan beberapa kawan mencari kawan yang hilang. Bersyukur, ada informasi kalau kawan yang hilang itu dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih yang lokasinya cuma beberapa langkah dari Bunderan UGM, tepatnya di sisi Selatan bunderan itu.
Tapi, usahakan kami tak berhasil. Para suster di rumah sakit itu berbaris mengawal pintu. Mereka melarang siapa pun yang mau membesuk korban demo.
Ada pula beberapa yang diduga intel mencoba menerobos. Tapi, para suster itu cukup tangguh. "Ini wilayah kami, jangan berani menerobos," seingat saya begitu kata para suster hingga terduga intel itu langsung ngacir.
Besoknya, kawan saya yang bernama Anas akhirnya keluar dari rumah sakit itu. “Dijemput LBH (lembaga bantuan hukum). Luar biasa Panti Rapih. Dijaganya aktivis dengan serius,” kata si Anas.
Saat itu saya tersenyum. Dalam hati mengutuk dengan kengototan para suster yang tidak memperbolehkan kami masuk. “Kalau saja dia bebaskan orang masuk, bisa habis semuanya (aktivis) diculik,” kata Anas lagi.
Yup, fragmen di atas langsung mengemuka diotak saya ketika mengetahui ada seorang aktivis antikorupsi ditembak. Namanya Mukhtar Effendi, aktivis Gerakan Rakyat Brantas Korupsi Sumatera Utara (Gebraksu). Meski dengan softgun, tetap saja dia luka. Pun, ini bukan sekadar luka, tapi sebagai sebuah tanda kalau belum ada keamanan bagi seorang aktivis dalam beraktivitas. Ada kekuatan lain yang mampu membungkam dia bergerak meski harus menghilangkan nyawanya. Dan hal ini bukan cerita baru  di negeri ini bukan? Lihat saja kasus Munir, Marsinah, Udin, Wiji Thukul, dan sebagainya yang tak akan muat untuk disebutkan satu per satu di sini.
Terlepas penembakan pada Mukhtar itu benar didasari oleh ketidakpuasan pihak tertentu terhadap gerakan Gebraksu atau tidak, pertanyaannya, kenapa para aktivis bisa begitu muda diserang?  Dan setelah jadi korban, adakah pengamanan untuk dirinya? Adakah yang setegas RS Panti Rapih tadi dalam mengawal para aktivis? Entahlah, semoga saja masyarakat tidak memisahkan kata aktif dengan is. Ya, is, yang cenderung dianggap menjijikan. Semoga tidak… (*)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website templatesfreethemes4all.comLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates