Aktif(is)
Pada 2, 3, dan 4 April 1998 lalu, tanpa diduga,
demonstrasi menuntut reformasi di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM)
Jogjakarta ricuh. Seratus lebih mahasiswa dan pemuda cedera. Mereka tidak siap.
Sementara, di sisi lain, aparat keamanan telah menyiapkan diri dengan pentungan
dan tameng.
Maka, Gelanggang Mahasiswa yang berada di seputaran Bundaran
UGM berbau amis. Hall Teater Gadjah Mada merah. Darah berceceran.
Beberapa kawan yang kabarnya luka malah hilang.
Setelah para aparat kembali ke barak, kepanikan belum
juga hilang. Saya dan beberapa kawan mencari kawan yang hilang. Bersyukur, ada
informasi kalau kawan yang hilang itu dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih yang
lokasinya cuma beberapa langkah dari Bunderan UGM, tepatnya di sisi Selatan
bunderan itu.
Tapi, usahakan kami tak berhasil. Para suster di rumah
sakit itu berbaris mengawal pintu. Mereka melarang siapa pun yang mau membesuk
korban demo.
Ada pula beberapa yang diduga intel mencoba menerobos.
Tapi, para suster itu cukup tangguh. "Ini wilayah kami, jangan berani
menerobos," seingat saya begitu kata para suster hingga terduga intel itu
langsung ngacir.
Besoknya, kawan saya yang bernama Anas akhirnya keluar
dari rumah sakit itu. “Dijemput LBH (lembaga bantuan hukum). Luar biasa Panti
Rapih. Dijaganya aktivis dengan serius,” kata si Anas.
Saat itu saya tersenyum. Dalam hati mengutuk dengan
kengototan para suster yang tidak memperbolehkan kami masuk. “Kalau saja dia
bebaskan orang masuk, bisa habis semuanya (aktivis) diculik,” kata Anas lagi.
Yup, fragmen di atas langsung mengemuka diotak saya
ketika mengetahui ada seorang aktivis antikorupsi ditembak. Namanya Mukhtar
Effendi, aktivis Gerakan Rakyat Brantas Korupsi Sumatera Utara (Gebraksu). Meski
dengan softgun, tetap saja dia luka. Pun, ini bukan sekadar luka, tapi sebagai
sebuah tanda kalau belum ada keamanan bagi seorang aktivis dalam beraktivitas.
Ada kekuatan lain yang mampu membungkam dia bergerak meski harus menghilangkan
nyawanya. Dan hal ini bukan cerita baru
di negeri ini bukan? Lihat saja kasus Munir, Marsinah, Udin, Wiji
Thukul, dan sebagainya yang tak akan muat untuk disebutkan satu per satu di
sini.
Terlepas penembakan pada Mukhtar itu benar didasari oleh
ketidakpuasan pihak tertentu terhadap gerakan Gebraksu atau tidak, pertanyaannya,
kenapa para aktivis bisa begitu muda diserang? Dan setelah jadi korban, adakah pengamanan
untuk dirinya? Adakah yang setegas RS Panti Rapih tadi dalam mengawal para
aktivis? Entahlah, semoga saja masyarakat tidak memisahkan kata aktif dengan is. Ya, is, yang
cenderung dianggap menjijikan. Semoga tidak… (*)



0 komentar:
Posting Komentar