Lantun ini yang berisikan tentang pandangan hidup seseorang

Kamis, 26 Februari 2015

4 Januari 2015



Teknik Muncul


Bicara awal 2015 sepertinya tak bisa lepas dari duka. Meski peristiwanya terjadi pada 2014 akhir, tetap saja ingatan tak bisa lepas. Bagaimana tidak, hanya berselang beberapa hari dari tiupan terompet remaja di jalanan supermacet di malam pergantian tahun.
Dua momen yang masih membekas di awal tahun ini – yang terjadi tahun lalu – sebut saja terjunnya AirAsia ke laut dan meninggalnya sastrawan angkatan 45 terakhir, Sitor Situmorang. Pertanyaanya, apakah ini pertanda 2015 akan kelam?
Belum ada yang bisa menjawab. Yang jelas, pada awal tahun ini, kejelasan mulai tampak. AirAsia telah ditemukan. Jasad Sitor Situmorang pun telah kembali ke Tanah Toba.
Tangis memang ada. Para keluarga korban AirAsia tentunya tak bisa tertawa karena kabar ditemukannya AirAsia sejurus dengan kematian keluarga mereka. Pun, keluarga Sitor tak bisa lega karena kembalinya ‘Si Anak Hilang’ sejalan dengan kepergian sastrawan itu untuk selama-lamanya.
Dua momen ini kalau tidak diangap berlebihan bisa saja dianggap sebagai penyemangat. Para penganut optimisme pun – meski hanya tercantum dalam status di media sosial – langsung menulis kalimat penuh semangat: 2015 pasti lebih baik, 2015 lebih sukses, dan sebagainya. Tidak itu saja, pesan berantai dikirimkan soal pergantian tahun. Dari ucapan selamat tahun baru hingga bumbu tekad: semoga tahun ini lebih baik. Pertanyaannya, apakah 2014 begitu berat hingga semuanya tak mau mengulang?
Setuju tidak setuju, tampaknya banyak yang merasa 2014 memang berat.  Diberi merek tahun politik, 2014 memang mewujud menjadi tahun perselisihan. Dua kubu tercipta pra maupun pascapemilihan presiden. DPR terbelah. Partai-partai terbelah, saling pecat. Kubu tandingan bermunculan. Dan, harga bahan bakar naik drastis, bensin yang Rp6.500 naik menjadi Rp8.500!
Tapi itu tadi, seiring AirAsia ditemukan dan kembalinya ‘Si Anak Hilang’ bak pertanda baik menyambut 2015. Setidaknya, pemerintah pun menurunkan lagi harga bahan bakar minyak bensin dari Rp8.500 menjadi Rp7.600.
“Itu kan pura-pura turun. Sebenarnya bensin tu memang mau dinaikkan Rp1.100. Jadi bukan turun dari lapan ribu lima ratus, tapi naik seribu seratus dari enam ribu lima ratus!” timpal kawan yang mewakili suara pesimis.
Persis dengan kabar ditemukan AirAsia dan kembalinya Sitor, bukankah duka tetap ada walau kabar pasti telah tiba? Artinya, mau tak mau, meski ada tak suka, pemerintah telah melakukan teknik muncul yang bagus bukan? Ayolah, harga bensin turun dari harga tahun lalu.
Nah, namanya teknik muncul, bak dalam drama, itu memang tergantung bagaimana seorang aktor berlakon. Masalah berhasil atau tidak drama secara keseluruhan, itu kan urusan lain. Yang penting, sang aktor, saat tampil ke panggung melakukan teknik yang menawan; yang menyedot perhatian dan yang tidak konyol! Persis dengan harga BBM, kalau kemudian biaya hidup makin parah karena gas naik dan listrik yang harganya tak menentu itu kan urusan lain. Bukankah begitu? (*)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website templatesfreethemes4all.comLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates